Jumat, 08 Juni 2012

Pidato Pengaruh Televisi Terhadap Siswa

PENGARUH TELEVISI TERHADAP SISWA

Assalamualaikum wr wb
Bapak/ ibu guru beserta rekan-rekan yang saya hormati, pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua sehingga kita dapat berkumpul ditempat ini, saya ucapkan banyak terimakasih atas kesempatan yang telah diberikan kepada saya untuk menyampaikan sebuah pidato yang berjudul “Pengaruh Televisi Terhadap Siswa”. Sebelum saya memulai berpidato saya ingin menyampaikan batasan masalah yang akan saya sampaikan didalam pidato hari ini, yakni diantaranya ; pengaruh televisi dari segi positif dan negatif.
 Bila kita melihat secara umum pengaruh televisi terhadap siswa memang tanpak sangat berguna dan bermakna karena media televisi ini merupakan sarana penyampaian informasi yang paling efektif dan efisien, efektif dari segi penyampaian informasi dan efisien dari segi harga untuk memperoleh informasi tersebut. Dengan media televisi wawasan dan ilmu pengetahuan seorang siswa dapat berkembang dengan pesat sejalan dengan perkembangan teknologi yang ada. Banyak hal positif yang dapat diambil dari adanya media televisi ini yakni diantaranya seperti, informasi mengenai berita terkini, ilmu pengetahuan umum, Entertainmen/ hiburan, dan lain sebagainya.
 Seorang siswa hendaknya selalu mengetahui informasi terkini yang terjadi didunia guna menambah wawasan dan ilmu pengetahuan dari siswa itu sendiri, yang dapat ia gunakan untuk mengembangkan dirinya dimasa yang akan datang, karena dengan informasi manusia dapat menjadi lebih baik dari sebelumnya, sedangkan untuk bidang entertainment/ hiburan, hal ini tentu saja berfungsi untuk mengurangi rasa penat atau rasa bosan pada setiap siswa didalam masa remajanya atau dalam masa-masa belajarnya, mengapa demikian? Karena setiap siswa yang sedang berkembang akan mengalami satu hal yang namanya ”bosan” dan hal ini perlu dicegah dengan kegiatan yang sifatnya menghibur/ refleksi yang dapat membuatnya selalu ”Fresh” dan berfikir positif, sehingga menjadikan ia selalu aktif dan kreatif.
 Selain dari wawasan dan ilmu pengetahuan yang dapat diperoleh siswa dari media televisi, keakraban antar keluarga akan tercipta sehingga membuat siswa merasa nyaman berada diantara keluarganya, karena keluarga juga merupakan salah satu faktor utama penentu keberhasilan diri seorang siswa, selain hal itu orang tua juga dapat mendidik anak-anaknya dengan lebih mudah melalui media televisi dan orang tua tersebut lebih mudah memberikan pengarahan terhadap anak sehingga anak akan merasa tidak terbebani untuk memahami apa yang diinginkan oleh orangtuanya. Hal-hal tersebut merupakan salah satu yang dapat kita rasakan/ lihat dari segi positif dampak televisi terhadap siswa, tetapi selain itu banyak hal-hal negativ yang dapat terjadi jika siswa telah terpengaruh oleh televisi, diantaranya adalah malas, mencontoh hal-hal yang tidak baik/ negatif seperti cara bergaul, berbicara, berpenampilan, serta pribadinya.
Malas adalah hal yang paling sering terjadi jika seorang siswa sudah terpengaruh oleh asyiknya menonton televisi sehingga melupakan belajarnya, dan hal ini merupakan hal yang sangat merugikan bagi siswa itu sendiri karena dengan bermalas-malasan dia tidak akan mendapatkan apa-apa dan apa yang ia cita-citakan dalam hidupnya, maka dari itu alangkah baiknya orang tua membatasi waktu menonton televisi dan menyaring tayangan yang sesuai dengan kebutuhan sang anak, selain malas pengaruh buruk televisi terhadap tingkah laku anak yakni mencontoh hal yang tidak seharusnya di contoh, misalkan anak usia dibawah lima tahun menonton tayangan televisi untuk orang dewasa, tentu hal ini sangat ”berbahaya” karena anak bisa dewasa sebelum dewasa, maksudnya adalah tindakan-tindakan yang dilakukan oleh orang dewasa tidak seharusnya dicontoh oleh anak kecil, seperti Kekerasan, gaya hidup seperti berpenampilan, bergaul, dan gaya-gaya berbicara yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa yang baik, dan lain sebagainya. Hal ini juga memerlukan kontrol dari orang tua untuk tayangan yang sifatnya dewasa seperti itu. Jika hal negativ tersebut sudah terjadi maka selanjutnya dapat kita lihat kepribadian dari siswa itu sendiri akan berubah dan ”Kemungkinan” merugikan bagi semua pihak termasuk dirinya sendiri.
Kesimpulannya bahwa, setiap hal yang ada didunia ini pasti memiliki aturan dan pandangan yang berbeda yakni, baik dan buruk, begitupun dengan media televisi, yang selayaknya digunakan untuk hal yang baik tetapi tetap saja memiliki dampak yang tidak baik bagi sebagian orang dan atau fungsinya. Maka dari itu peranan orang tua untuk mendidik anak (siswa) sangatlah penting serta kesadaran dari siswa itu sendiri haruslah tinggi dan bertanggung jawab atas apa yang hendak ia lakukan dengan bimbingan dari guru dan kegiatan-kegiatan positif yang dia lakukan selama dia berada dilingkungan sekolah.
Atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih, akhir kata, wassalamualaikum wr wb.

Sosialisasi Dan Pembentukan Kepribadian


Sosialisasi Dan Pembentukan Kepribadian


a. Sosialisasi

        1.     Pengertian Sosialisasi
Sosiologi adalah proses pembelajaran seseorang di tempat yang baru untuk mengetahui dan menerapkan kebudayaan masyarakat di suatu lingkungan.

        2.     Tujuan Sosialisasi
a.     Untuk dapat mengetahui niloai dan norma yang berlaku di dalam sebuah masyarakat.
b.     Untuk dapat lebih memahami lingkungan social budaya suatu kelompok masyarakat.
c.     Untuk memahami kondisi lingkungan alam sekitar.
d.     Untuk mengetahui kondisi lingkungan social yang terkait dengan aktivitas pribadinya.

        3.     Indikasi Keberhasilan Sosialisasi
                a.             Meningkatnya status dan peran social seseorang.
             b.     Segera dapat beradaptasi dengan lingkungan baik social maupun fisik.
                 c.             Diakui dan terintegrasi secara kuat dengan masyarakat setempat dalam aktivitas kemasyarakatan.
                d.     Timbul ketentraman dalam pergaulan dan berkarier karena memiliki banyak relasi.



        4.     Bentuk dan Tahapan Sosialisasi
                        Menurut Peter L. Berger sosialisasi dibedakan menjadi dua jenis, yaitu sosialisasi primer dan sosialisasi skunder. Sosialisasi primer adalah sosialisasi yang pertama kali dialami oleh setiap individu,misalnya sosialisasi yang terjadi didalam keluarga. Sosialisasi skunder adalah  sosialisasi yang dialami di luar lingkungan keluarga.
                Bentuk-bentuk sosialisasi akan berlangsung melalui beberapa tahap sebagai berikut.

                a.     Masa anak-anak
                        Seseorang mulai belajar dengan cara meniru perilaku dan tindakan serta pembicaraan anggota keluarga. Tahap meniru ini oleh George Herbert Mead sering disebut preparatory stage.  Seseorang mulai mengenal lingkungan lebih luas melalui teman sepermainan, sehingga mulai mengenal dan bermain peran atau meniru segala tingkah dan pola perilaku dari seseorang tokoh yang diidolakan.

                b.     Masa remaja
                        Tahapan ini disebut tahap game stage. Masa ini di sebut masa puber, yaitu mulainya tumbuh dan berkembangnya cirri fisik dan fungsi seksualitas.

                c.     Masa Dewasa
                        Pada masa ini, perkembangan proses sosialisasi mengalami titik klimaks. Proses sosialisasi cenderung pada penyesuaian diri yang disebut generalized other. Seorang individu juga sudah mulai mendapat status dan peran di lingkungannya sehingga dituntut untuk bertanggung jawab atas kewajiban status dan perannya.

5.     Faktor yang Mempengaruhi Proses Sosialisasi
                a.     Faktor Intrinsik
                        factor intrinsic yaitu factor yang berasal dari dalam diri individu itu sendiri. Factor ini diperoleh individu dari warisan biologis atau dikenal dengan pembawaan dan meliputi tingkat kecerdasan atau IQ, bakat, postur tubuh dan golongan darah.

                b.     Faktor Ekstrinsik
                    factor ekstrinsik yaitu segala factor yang berasal dari luar individu yang berupa lingkungan social budaya di mana seseorang individu hidup dan melaksanakan pergaulan. Factor ini meliputi lingungan pendidikan, pekerjaan, masyarakat dan pergaulan.

6.     Media Sosialisasi
                Proses sosialisasi berlangsung terus-menerus sejak individu seseorang lahir hingga akhir hayatnya. Media sosialisasi merupakan sarana bagi seseorang individu untuk belajar berinteraksi sehingga individu mengenal system tata kelakuan hubungan dalam lingkungan masyarakat. Media sosialisasi antara lain sebagai berikut.



        a.     Keluarga
                keluarga merupakan media sosialisasi paling awal. Sejak seseorang dilahirkan sudah berinteraksi dengan anggota keluarganya dan juga mendapatkan perlindungan dan bantuan. Orang tua memiliki peran sangat penting dan vital dalam membentuk pola perilaku dan kepribadian seseorang anak sejak ia dilahirkan. Peran orang tua dalam media sosialisasi adalah.
1)  Menanamkan kedisiplinan dan ketertiban pola hidup sehingga terbentuk pola perilaku, watak, dan kepribadian anak.
2)  Memberikan pengawasan dan pengendalian yang wajar sehingga anak tidak merasa tertekan jiwanya.
3)  Mengajarkan agar anak dapat membedakan antara perilaku benar dan salah.
4)  Memberikan teladan perilaku yang baik sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di dalam masyarakat.

     Bila didapati kondisi anak yang berbeda dengan hal-hal dimuka, mungkin disebabkan oleh beberapa factor berikut.
1)  Sikap orang tua yang terlalu sibuk dengan urusannya sendiri sehingga tidak memperhatikan keadaan anaknya.
2)  Terkadang orang tua terlalu otoriter dan kejam ataupin sering memaksa dan memberikan sanksi yang berat sehingga membuat jiwa anak menjadi tertekan.

     Sosialisasi dalam keluarga dapat dilaksanakan dengan dua cara, yaitu:
1)  Sosialisasi represif ( repressive socialization ), yaitu prosessosialissi yang mengutamakan ketaatan anak terhadap orang tuanya. Proses tersebut di tandai dengan hal-hal berikut.
     a) Memberi hukuman kepada anak yang berbuat salah.
b) Memberikan imbalan material.
c) Menimbulkan kepatuhan anak terhadap orang tua.
d) Pola komunikasi instruktif atau perintah.
e) Komunikasi bersifat nonverbal.
f) Anak selalu memerhatikan dan memenuhi kehendak orang tuanya.
g) Keluarga bersifat participatory socialization (dominasi orang tua lebih kuat dan nyata).
              2)  Sosialisasi partisipasi (participatory socialization), yaitu proses sosialisasi yang melibatkan partisipasi anak. Proses tersebut di tandai dengan hal-hal berikut.
                   a) Memberi hadiah kepada anak yang berbuat baik.
                   b) Sanksi bersifat simbolis.
                   c) Anak diberikan otonomi.
                   d) Pola komunikasi interaktif.
                   e) Komunikasi bersifat interaktif.
                   f) Sosialisasi berpusat pada anak.
                   g) Orang tua memerhatikan dan memenuhi kebutuhan anak.
                   h) Keluarga merupakan generalized order (kerja sama kea rah tujuan).

b.    Kelompok Bermain (peer group)
kelompok bermain bagi anak-anak adalah taman tetangga, saudara dan kerabat. Bagi keluarga yang mampu akan memasukan anaknya kesebuah kelompok bermain yang dikenal dengan play group. Kelompok bermain akan berkembang menjadi persahabatan , persahabatan itu menimbulkan sebuah kelompok remaja yang sering disebut geng. Dari geng-geng itu mungkin akan muncul tauran antar geng dan menyalahgunakan miras dan juga narkoba itu adalah kelompok anak remaja yang berperilaku negative. Ada juga kelompok remaja yang mengembangkan dasar-dasar kepribadian yang positif, antara lain.
                1)     Mengembangkan keterampilan berorganisasi dan kepemimpinan, misalnya Pramuka, Sapala, Mapala, Karang taruna dll.
                2)     Menumbuhkan rasa kesetiakawanan social, misalnya PMR dan PMI.
                3)     Menumbuhkan rasa solidaritas kelompok.
                4)     Menumbuhkan semangat patriotism.
                5)     Menumbuhkan rasa aman dan percaya diri.
                6)     Merangsang kemandirian.
                7)     Wahana penyaluhan emosi dan bakat.
                8)     Mematangkan kedewasaan.

c.    Lingkungan sekolah
Lingkungan sekolah adalah sebuah wahana diselenggarakan pendidikan formal bagi anak didik guna memperoleh bekal kelak di kemudian hari setelah ia tidak lagi tergantung pada orang tuanya. Menurut Horton, fungsi lembaga pendidikan formal antara lain ialah sebagai berikut.
1)     Merupakan modal dalam memilih dan menentukan pekerjaan dan mata pencaharian.
2)     Sebagai wahana pengembangan potensi demi pemenuhan kebutuhan pribadi dan pengembangan masyarakat.
3)     Sebagai wahana pelestarian budaya.
4)     Sebagai wahana pematangan kepribadian.

d.    Lingkungan kerja
       Seseorang yang bekerja dalam sebuah lingkungan kerja niscaya akan memiliki endapan-endapan pengalaman yang mengkristal dan kemudian muncul sebagai sebuah bentuk pola perilaku sehari-hari yang akan berkembang menjadin kepribadian yang akan sulit sekali berubah.

e.         Media massa
                        Media massa terdiri atas media cetak dan media elektronik

Selasa, 05 Juni 2012

Zat Aditif Yang Terkandung Dalam Makana


ZAT ADITIF YANG TERKANDUNG DALAM MAKANAN



A.   Pengertian Zat Aditif
Untuk mempertahankan hidupnya, manusia tidak lepas dari makanan. Guna makanan untuk mendapatkan energi, memperbaiki sel-sel yang rusak, pertumbuhan, menjaga suhu dan menjaga agar badan tidak terserang penyakit. Makanan yang bergizi merupakan makanan yang mengandung karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral dan air. Untuk maksud tersebut kita memerlukan zat aditif.
Zat aditif pada makanan adalah zat yang ditambahkan dan dicampurkan dalam pengolahan makanan untuk meningkatkan mutu. Jenis­-jenis zat aditif antara lain pewarna, penyedap rasa, penambah aroma, pemanis, pengawet, pengemulsi dan pemutih.
Aditif makanan atau bahan tambahan makanan merupakan bahan yang ditambahkan dengan sengaja ke dalam makanan dalam jumlah kecil, dengan tujuan untuk memperbaiki penampakan, cita rasa, tekstur, flavor dan memperpanjang daya simpan. Selain itu dapat meningkatkan nilaigizi seperti protein, mineral dan vitamin. Penggunaan aditif makanan telah digunakan sejak zaman dahulu. Bahan aditif makanan ada dua, yaitu bahan aditif makanan alami dan buatan atau sintetis.
Bahan tambahan makanan adalah bahan yang bukan secara alamiah merupakan bagian dari bahan makanan, tetapi terdapat dalam bahan makanan tersebut karena perlakuan saat pengolahan, penyimpanan atau pengemasan.
Agar makanan yang tersaji tersedia dalam bentuk yang lebih menarik, rasa enak, rupa dan konsistensinya baik serta awet maka sering dilakukan penambahan bahan tambahan makanan yang sering disebut zat aditif kimia (food aditiva). Adakalanya makanan yang tersedia tidak mempunyai bentuk yang menarik meskipun kandungan gizinya tinggi.

B.   Jenis-jenis Zat Aditif

Jenis-jenis zat aditif antara lain sebagai berikut :
1.      Penguat Rasa
Monosodium Glutamat (MSG) sering digunakan sebagai penguat rasa makanan buatan dan juga untuk melezatkan makanan Adapun penguat rasa alami diantaranya adalah bunga cengkeh, pala, merica, cabai, laos, kunyit, ketumbar. Contoh penguat rasa buatan adalah monosodium glutamat/vetsin, asam cuka, benzaldehida, amil asetat.

2.      Pemanis
Zat pemanis buatan biasanya digunakan untuk membantu mempertajam rasa manis makanan dan minuman. Zat pemanis dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
a.       Zat pemanis alami. Pemanis ini dapat diperoleh dari tumbuhan, seperti kelapa, tebu, dan aren. Selain itu, zat pemanis alami dapat pula diperoleh dari buah-buahan dan madu. Zat pemanis alami berfungsi juga sebagai sumber energi. Jika kita mengonsumsi pemanis alami secara berlebihan, kita akan mengalami risiko kegemukan. Orang-orang yang sudah gemuk badannya sebaiknya menghindari makanan atau minuman yang mengandung pemanis alami terlalu tinggi.
b.      Zat pemanis buatan atau sintetik. Pemanis buatan tidak dapat dicerna oleh tubuh manusia sehingga tidak berfungsi sebagai sumber energi. Oleh karena itu, orangorang yang memiliki penyakit kencing manis (diabetes melitus) biasanya mengonsumsi pemanis sintetik sebagai pengganti pemanis alami. Contoh pemanis sintetik, yaitu sakarin, natrium siklamat, magnesium siklamat, kalsium siklamat,aspartam dan dulsin. Pemanis buatan memiliki tingkat kemanisan yang lebih tinggi dibandingkan pemanis alami. Garam-garam siklamat memiliki kemanisan 30 kali lebih tinggi dibandingkan kemanisan sukrosa. Namun, kemanisan garam natriumdan kalsium dari sakarin memiliki kemanisan 800 kali dibandingkan dengan kemanisan sukrosa 10%.
Walaupun pemanis buatan memiliki kelebihan dibandingkan pemanis alami, kita perlu menghindari konsumsi yang berlebihan karena dapat memberikan efek samping bagi kesehatan. Misalnya, penggunaan sakarin yang berlebihan selain akan menyebabkan rasa makanan terasa pahit juga merangsang terjadinya tumor pada bagian kandung kemih. Contoh lain, garam-garam siklamat pada prosesmetabolisme dalam tubuh dapat menghasilkan senyawa sikloheksamina yang bersifat karsinogenik (senyawa yang dapat menimbulkan penyakit kanker). Garam siklamat juga dapat memberikan efek samping berupa gangguan pada sistem pencernaan terutama pada pembentukan zat dalam sel.

3.      Bahan Pengawet
Bahan pengawet adalah zat kimia yang dapat menghambat kerusakan pada makanan, karena serangan bakteri, ragi, cendawan. Reaksi-reaksi kimia yang sering harus dikendalikan adalah reaksioksidasi, pencoklatan (browning) dan reaksi enzimatis lainnya. Pengawetan makanan sangat menguntungkan produsen karena dapat menyimpan kelebihan bahan makanan yang ada dan dapat digunakan kembali saat musim paceklik tiba. Ada sejumlah cara menjaga agar makanan dan minuman tetap layak untuk dimakan atau diminum walaupun sudah tersimpan lama. Salah satu upaya tersebut adalah dengan cara menambahkan zat aditif kelompok pengawet (zat pengawet) ke dalam makanan dan minuman. Zat pengawet adalah zat-zat yang sengaja ditambahkan pada bahan makanan dan minuman agar makanan dan minuman tersebut tetap segar, bau dan rasanya tidak berubah, atau melindungi makanan dari kerusakan akibat membusuk atau terkena bakteri/ jamur. Karena penambahan zat aditif, berbagai makanan dan minuman masih dapat dikonsumsi sampai jangka waktu tertentu, mungkin seminggu, sebulan, setahun, atau bahkan beberapa tahun. Dalam makanan atau minuman yang dikemas dan dijual di toko-toko atau supermarket biasanya tercantum tanggal kadaluarsanya, tanggal yang menunjukkan sampai kapan makanan atau minuman tersebut masih dapat dikonsumsi tanpa membahayakan kesehatan. Seperti halnya zat pewarna dan pemanis, zat pengawet dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu zat pengawet alami dan zat pengawet buatan.
a.       Zat pengawet alami berasal dari alam, contohnya gula (sukrosa) yang dapat dipakai untuk mengawetkan buah-buahan (manisan) dan garam dapur yang dapat digunakan untuk mengawetkan ikan.
b.      Zat pengawet sintetik atau buatan merupakan hasil sintesis dari bahan-bahan kimia. Contohnya, asam cuka dapat dipakai sebagai pengawet acar dan natriumpropionat atau kalsium propionat dipakai untuk mengawetkan roti dan kue kering. Garam natrium benzoat, asam sitrat, dan asam tartrat juga biasa dipakai untuk mengawetkan makanan. Selain zat-zat tersebut, ada juga zat pengawet lain, yaitunatrium nitrat atau sendawa (NaNO3) yang berfungsi untuk menjaga agar tampilan daging tetap merah. Asam fosfat yang biasa ditambahkan pada beberapa minuman penyegar juga termasuk zat pengawet. Selain pengawet yang aman untuk dikonsumsi, juga terdapat pengawet yang tidak boleh dipergunakan untuk mengawetkan makanan. Zat pengawet yang dimaksud, di antaranya formalin yang biasa dipakai untuk mengawetkan benda-benda, seperti mayat atau binatang yang sudah mati. Pemakaian pengawet formalin untuk mengawetkan makanan, seperti bakso, ikan asin, tahu, dan makanan jenis lainnya dapat menimbulkan risiko kesehatan. Selain formalin, ada juga pengawet yang tidak boleh dipergunakan untuk mengawetkan makanan. Pengawet yang dimaksud adalah pengawet boraks. Pengawet ini bersifat desinfektan atau efektif dalam menghambat pertumbuhan mikroba penyebab membusuknya makanan serta dapat memperbaiki tekstur makanan sehingga lebih kenyal. Boraks hanya boleh dipergunakan untuk industri nonpangan, seperti dalam pembuatan gelas, industri kertas, pengawet kayu, dan keramik. Jika boraks termakan dalam kadar tertentu, dapat menimbulkan sejumlah efek samping bagi kesehatan, di antaranya:
a)      gangguan pada sistem saraf, ginjal, hati, dan kulit;
b)      gejala pendarahan di lambung dan gangguan stimulasi saraf pusat;
c)      terjadinya komplikasi pada otak dan hati; dan
d)     menyebabkan kematian jika ginjal mengandung boraks sebanyak 3–6 gram.
Walaupun tersedia zat pengawet sintetik yang digunakan sebagai zat aditif makanan, di negara maju banyak orang enggan mengonsumsi makanan yang memakai pengawet sintetik. Hal ini telah mendorong perkembangan ilmu dan teknologi pengawetan makanan dan minuman tanpa penambahan zat-zat kimia, misalnya dengan menggunakan sinar ultra violet (UV), ozon, atau pemanasan pada suhu yang sangat tinggi dalam waktu singkat sehingga makanan dapat disterilkan tanpa merusak kualitas makanan.

4.      Pewarna

Warna dapat memperbaiki dan memberikan daya tarik pada makanan. Penggunaan pewarna dalam bahan makanan dimulai pada akhir tahun 1800. Zat warna sintetik ditemukan oleh William Henry Perkins tahun 1856, zat pewarna ini lebih stabil dan tersedia dari berbagai warna. Zat warna sintetis mulai digunakan sejak tahun 1956 dan saat ini ada kurang lebih 90% zat warna buatan digunakan untuk industri makanan.  Zat pewarna yang biasa digunakan sebagai zat aditif pada makanan adalah:

a.       Zat pewarna alami, dibuat dari ekstrak bagian-bagian tumbuhan tertentu, misalnya warna hijau dari daun pandan atau daun suji, warna kuning dari kunyit, warna cokelat dari buah cokelat, warna merah dari daun jati, dan warna kuning merah dari wortel. Karena jumlah pilihan warna dari zat pewarna alami terbatas maka dilakukan upaya menyintesis zat pewarna yang cocok untuk makanan dari bahan-bahan kimia.

b.      Zat pewarna sintetik, dibuat dari bahan-bahan kimia. Dibandingkan dengan pewarna alami, pewarna sintetik memiliki beberapa kelebihan, yaitu memiliki pilihan warna yang lebih banyak, mudah disimpan, dan lebih tahan lama. Beberapa zat pewarna sintetik bisa saja memberikan warna yang sama, namun belum tentu semua zat pewarna tersebut cocok dipakai sebagai zat aditif pada makanan dan minuman. Perlu diketahui bahwa zat pewarna sintetik yang bukan untuk makanan dan minuman (pewarna tekstil) dapat membahayakan kesehatan apabila masuk ke dalam tubuh karena bersifat karsinogen (penyebab penyakit kanker). Oleh karena itu, kamu harus berhati-hati ketika membeli makanan atau minuman yang memakai zat warna. Kamu harus yakin dahulu bahwa zat pewarna yang dipakai sebagai zat aditif pada makanan atau minuman tersebut adalah memang benar-benar pewarna makanan dan minuman.

Berdasarkan sifat kelarutannya, zat pewarna makanan dikelompokkan menjadi dye dan lake. Dye merupakan zat pewarna makanan yang umumnya bersifat larut dalam air. Dye biasanya dijual di pasaran dalam bentuk serbuk, butiran, pasta atau cairan. Lake merupakan gabungan antara zat warna dye dan basa yang dilapisi oleh suatu zat tertentu. Karena sifatnya yang tidak larut dalam air maka zat warna kelompok ini cocok untuk mewarnai produkproduk yang tidak boleh terkena air atau produk yang mengandung lemak dan minyak.

5.      Zat Penyedap Cita Rasa
Di Indonesia terdapat begitu banyak ragam rempahrempah yang dipakai untuk meningkatkan cita rasa makanan, seperti cengkeh, pala, merica, ketumbar, cabai, laos, kunyit, bawang, dan masih banyak lagi yang lain. Melimpahnya ragam rempah-rempah ini merupakan salah satu sebab yang mendorong penjajah Belanda dan Portugis tempo dulu ingin menguasai Indonesia. Jika rempah-rempah dicampur dengan makanan saat diolah, dapat menimbulkan cita rasa tertentu pada makanan.
Selain zat penyedap cita rasa yang berasal dari alam, ada pula yang berasal dari hasil sintesis bahan kimia. Berikut ini beberapa contoh zat penyedap cita rasa hasil sintesis:
a.       oktil asetat, makanan akan terasa dan beraroma seperti buah jeruk jika dicampur dengan zat penyedap ini;
b.      etil butirat, akan memberikan rasa dan aroma seperti buah nanas pada makanan;
c.       amil asetat, akan memberikan rasa dan aroma seperti buah pisang;
d.      amil valerat, jika makanan diberi zat penyedap ini maka akan terasa dan beraroma seperti buah apel.
Selain zat penyedap rasa dan aroma, seperti yang sudah disebutkan di atas, terdapat pula zat penyedap rasa yang penggunaannya meluas dalam berbagai jenis masakan, yaitu penyedap rasa monosodium glutamat (MSG). Zat ini tidak berasa, tetapi jika sudah ditambahkan pada makanan maka akan menghasilkan rasa yang sedap. Penggunaan MSG yang berlebihan telah menyebabkan “Chinese restaurant syndrome” yaitu suatu gangguan kesehatan di mana kepala terasa pusing dan berdenyut. Bagi yang menyukai zat penyedap ini tak perlu khawatir dulu. Kecurigaan ini masih bersifat pro dan kontra. Bagi yang mencoba menghindari untuk mengonsumsinya, sudah tersedia sejumlah merk makanan yang mencantumkan label “tidak mengandung MSG” dalam kemasannya.
Pada pembahasan sebelumnya, kamu sudah mempelajari tentang pengelompokan zat aditif berdasarkan fungsinya beserta contoh-contohnya. Perlu kamu ketahui bahwa suatu zat aditif dapat saja memiliki lebih dari satu fungsi.
Seringkali suatu 
zat aditif, khususnya yang bersifat alami memiliki lebih dari satu fungsi. Contohnya, gula alami biasa dipakai sebagai zat aditif pada pembuatan daging dendeng. Gula alami tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pemanis, tetapi juga berfungsi sebagai pengawet. Contoh lain adalah daun pandan yang dapat berfungsi sebagai pemberi warna pada makanan sekaligus memberikan rasa dan aroma khas pada makanan.
6.      Pengental
Pengental yaitu bahan tambahan yang digunakan untuk menstabilkan, memekatkan atau mengentalkan makanan yang dicampurkan dengan air, sehingga membentuk kekentalan tertentu. Contoh pengental adalah pati, gelatin, dan gum (agar, alginat, karagenan).

7.      Pengemulsi

Pengemulsi (emulsifier) adalah zat yang dapat mempertahankan dispersi lemak dalam air dan sebaliknya. Pada mayones bila tidak ada pengemulsi, maka lemak akan terpisah dari airnya. Contoh pengemulsi yaitu lesitin pada kuning telur, Gom arab dan gliserin.

8.      Lain-lain

Selain itu terdapat pula macam-macam bahan tambahan makanan, seperti

a.       antioksidan, seperti butil hidroksi anisol (BHA), butil hidroksi toluena (BHT), tokoferol (vitamin E),
b.      pengikat logam,
c.       pemutih, seperti hidrogen peroksida, oksida klor, benzoil peroksida, natrium hipoklorit,
d.      pengatur keasaman, seperti aluminium amonium sulfat, kalium sulfat, natrium sulfat, asam laktat,
e.       zat gizi,
f.       anti gumpal, seperti aluminium silikat, kalsium silikat, magnesium karbonat, magnesium oksida.

 
C.   Efek Samping Penggunaan Zat Aditif

Bahan aditif juga bisa membuat penyakit jika tidak digunakan sesuai dosis, apalagi bahan aditif buatan atau sintetis. Penyakit yang biasa timbul dalam jangka waktu lama setelah menggunakan suatu bahan aditif adalah kanker, kerusakan ginjal, dan lain-lain. Maka dari itu pemerintah mengatur penggunaan bahan aditif makanan secara ketat dan juga melarang penggunaan bahan aditif makanan tertentu jika dapat menimbulkan masalah kesehatan yang berbahaya. Pemerintah juga melakukan berbagai penelitian guna menemukan bahan aditif makanan yang aman dan murah.




DAFTAR PUSTAKA